Jumat, 18 November 2011

Mengawal pemberdayaan masyarakat menuju ekowisataku rawa

Landscape Planning  Ekonomi desa Wisataku Rawa    dan Kampung seni
Gambaran lanscape dan wilayah garapan desa wisata dan perkampungan seni dengan perspektif konservasi lingkungan antara lain :
1.        Workshop guide lokal yang melek di bidang teknologi informasi dan komunikasi (ICT), pemuda fasilitator pariwisata persiapan even tahunan JFC internasional
2.        Saresehan multi pihak wisata rawa dan potensi obyek wisata pantai selatan, dipadu dengan BBJ (bulan berkunjung ke Jember)
3.        Workshop pemberdayaan pendidikan, lingkungan, budaya, sosial kemasyarakatan dan ekonomi kelompok usaha masyarakat
4.        Sosialisasi kegiatan koperasi masyarakat pesisir sebagai pengelola akses kredit.
5.     Budidaya Padi dan jagung lokal hasil pertanian organik khas rawa , dipadu dengan program budidaya sorgum dan padi lokal organik
6.       Wisata konservasi tentang komunitas dan ekosistem rawa Pulo, Jeni , Plumpung dan Kuro, dipadu dengan program riset pecinta alam konservasi
7.        Home stay dan hallroom metting back to nature “terapung”, event karya wisata sekolah-sekolah
8.        Track Wisata hutan mangrove Tanjung pelindu , dipadu dengan program konservasi organisasi mahasiswa pecinta alam
9.        Pusat pembenihan ikan khas rawa , dipadu dengan program perikanan air tawar dinas perikanan kabupaten jember
10.     Perintisan usaha peternakan bebek dan unggas yang cocok di kehidupan rawa-rawa.
11.     Galery kampung seni dengan produk seni kerajinan dan lukisan karya seniman desa kepanjen, dipadu dengan kegiatan organisasi mahasiswa kesenian
12.     Workshop seni dan Panggung kesenian (lokal dan populer), dipadu dengan jaringan seniman jember dan aktivis mahasiswa kesenian UNEJ
13.     Pengembangan teknologi pertanian tepat guna dengan kekuatan komunitas basis rawa , dipadu dengan kegiatan LSM yang konsen di bidang pengembangan pola organik

Kegiatan akan direncanakan secara bertahap dengan melibatkan masyarakat setempat. Dan  didampingi oleh aktivis mahasiswa kesenian dan organisasi mahasiswa pecinta alam serta kerjasama dengan LSM lestari Alam (konservasi alam) dan pemerintah desa , BKSDA Jember, serta pihak yang mendukung penciptaan wahana desa wisata di sekitar pesisir selatan. Diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, perlindungan pelestarian ekologi rawa, obyek penelitian rawa tanah basah di jatim serta penciptaan kesadaran merawat potensi pesona wisata di Jember. Sehingga kelak Jember di wilayah selatan akan mampu menajdi daerah tujuan wisata baru yang mampu menarik kunjungan wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara .

Semua pihak dimungkinkan dapat memberikan kontribusi dalam penataan dan pengelolaan kawasan pesisir pantai selatan Jember terutama diwilayah desa wisata dan perkampungan seni yang berperspektif lingkungan. Adapun proposal perencanaan tersebut akan  dapat terintegrasi dengan baik kalau didalamya terikat dalam uraian kerjasama kemitraan yang nantinya dibuat dengan kesepakatan bersama multi pihak. Untuk keperluan awal pihak-pihak akan ditawari untuk membentuk komite persiapannya, Harapan kami pihak UNEJ yang mempunyai kemampuan penyediaan akademisi dan fasilitas laboratoriumnya, pihak kantor pariwisata Pemerintah Kabupaten Jember, aktivis kesenian dan aktivis pecinta alam.Tidak terkecuali tokoh masyarakat desa Paseban, Menampu dan Mayangan, kelompok nelayan, kelompok tani rawa, kelompok kerajinan mendong dan seni tradisi . Juga jaringan pemasaran tour dan travel, masyarakat pedidikan Jember serta masyarakat praktisi desain dan konstruksi.  Dan pihak-pihak yang mempunyai wewenang dalam cagar budaya dan cagar alam, TNMB, Perhutani KPH Jember, BKSDA Jember. Dan dukungan lembaga secara nasional terutama Kementrian Pariwisata, lembaga BPN ,  Departemen Kelautan dan Perikanan , Kementerian PU, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kementrian Pariwisata dan Kebudayaan. Dan pihak-pihak yang terkait atau berminat  pada perencanaan awal ini yang masih belum sempat kami munculkan, diharapkan apresiasinya. Direncanakan untuk membahas , merencanakan dan menindaklanjuti kebutuhan masyarakat disekitar rawa, sementara akan di kawal oleh lembaga swadaya masyarakat Lestari Alam.

foto kondisi ekowistaku rawa kuro

burung trulek alis putih endemik rawa
capung sebagai indikasi air rawa bersih

bunga bakung-bakungan tanaman endemik
mata pencaharian rakyat sekitar rawa



view rawa

Penataan kawasan sudah semestinya melibatkan hubungan manusia dengan lingkungan yang menjadi pijakan eksistensinya, sehingga dalam hubungan struktural akan terwakili dalam konstruksi kesejarahan. Untuk memahami realitas sejarah secara lebih baik, dan nantinya diharapkan memberikan konstribusi dalam menjawab dinamika pemikiran kebudayaan dan permasalahan lingkungan yang akan muncul dikemudian hari. Untuk keperluan ini diperlukan kajian-kajian sejarah budaya yang mengintegrasikan perspektif lingkungan alam, manusia dan perkembangan fungsi manfaatnya. Memang merintis prespektif demikian ini akan melibatkan beberapa pihak  dalam melakukan studi. Sejak  1992 sudah dimulai dengan kajian ekosistem rawa, analisa bencana tsunami, pola matapencaharian masyarakat nelayan dan pengamatan produksi hasil budidaya pertanian rawa. Sementara yang mengarah pada konstruk landscape masih pada tataran embrional dan beberapa kajian sejarah kebudayaan yang berhubungan dengan seni tradisi masyarakat setempat. Gambaran utuh nantinya dengan pendekatan perspektif lingkungan secara umum bergerak dalam wilayah garapan meliputi : 1). Lingkungan alamiah masa lampau  , 2). Moda-moda produksi, 3). Persepsi nilai  ideologi budaya lokal, semua dilakukan untuk mewarnai penataan ruang nantinya agar tidak terjadi perubahan yang akan mencerabut akar-akar tradisi masyarakat setempat. Tentu saja akan dikemas dalam garapan-garapan terencana dan konstruktif nuansa image lingkungan desa wisata. (foto doc. wili : view rowo kuro, GM, 2011)