Penataan kawasan sudah semestinya melibatkan hubungan manusia dengan lingkungan yang menjadi pijakan eksistensinya, sehingga dalam hubungan struktural akan terwakili dalam konstruksi kesejarahan. Untuk memahami realitas sejarah secara lebih baik, dan nantinya diharapkan memberikan konstribusi dalam menjawab dinamika pemikiran kebudayaan dan permasalahan lingkungan yang akan muncul dikemudian hari. Untuk keperluan ini diperlukan kajian-kajian sejarah budaya yang mengintegrasikan perspektif lingkungan alam, manusia dan perkembangan fungsi manfaatnya. Memang merintis prespektif demikian ini akan melibatkan beberapa pihak dalam melakukan studi. Sejak 1992 sudah dimulai dengan kajian ekosistem rawa, analisa bencana tsunami, pola matapencaharian masyarakat nelayan dan pengamatan produksi hasil budidaya pertanian rawa. Sementara yang mengarah pada konstruk landscape masih pada tataran embrional dan beberapa kajian sejarah kebudayaan yang berhubungan dengan seni tradisi masyarakat setempat. Gambaran utuh nantinya dengan pendekatan perspektif lingkungan secara umum bergerak dalam wilayah garapan meliputi : 1). Lingkungan alamiah masa lampau , 2). Moda-moda produksi, 3). Persepsi nilai ideologi budaya lokal, semua dilakukan untuk mewarnai penataan ruang nantinya agar tidak terjadi perubahan yang akan mencerabut akar-akar tradisi masyarakat setempat. Tentu saja akan dikemas dalam garapan-garapan terencana dan konstruktif nuansa image lingkungan desa wisata. (foto doc. wili : view rowo kuro, GM, 2011)
Rawa di sekitar pantai selatan Jember, masih nampak eksotik karena memang belum tersentuh oleh tangan-tangan jail. Terutama rawa-rawa yang masih digenangi air secara tahunan, membuat nuansa alai disekitar rawa-rawa tersebut masih asri dan sangat bersahabat dengan alam sekitarnya. Kecamatan Gumukmas, kencong dan puger terletak diwilayah selatan pantai jember Jatim, adalah daerah yang kaya akan rawa-rawa. Masyarakat masih memanfaatkan rawa-rawa tersebut sebagai sumber agraria yang mampu menjadi sumber kehidupannya.
Di Gumukmas (arti bebasnya gundukan emas, mungkin karena gundukan tersebut sama dengan gundukan padang pasir besi. Kemilaunya seperti keemasan) terdapat bukit-bukit pasir bagian selatan merupakan wilayah dengan kondisi geografis dataran dengan potensi kelautan, terutama tambak dan rawa-rawa, sebagian lahan pertanian. Bagian paling ujung selatan terdapat pasir pantai dengan view pulau Nusa Barong. Pantai disana juga merupakan pendaratan ikan yang sebagain lainnya mendaratkan ikannya di Pantai Puger sebelah timur dari Mayangan Gumukmas. Suhu panas pantai lebih dominan sehingga terasa panas dan uap air dari laut kadang masuk menjorok ke daratan terbawa angin laut.Tanaman khasnya adalah mangrove dan pandan laut dengan asumsi sementara untuk mencegah erupsi air laut ke darat yang akan menjadikan mata air dan sumur masyarakat terasa asinnya. Terdapat hulu sungai Bondoyudo yang bermuara di tanjung Pelindu.
Sedangkan muatan kebudayaan yang tepat disana adalah adanya situs purbakala yaitu peninggalan Raja Majapahit Hayamwuruk berupa reruntuhan candi. Yaitu candi Deres (candi boto). Empu Prapanca (kitab Negarakrtagama) menggambarkan kunjungan (1359) Raja Hayam Wuruk di Sadeng, melalui Kunir dan Basini, disana beliau menginap beberapa malam sambil menikmati keindahan alam diaderah sarampwan. Dari sadeng raja menuju kuta Bacok, terletak dipinggir laut. Asyik memandangi karang tersiram ombak yang terpencar seperti hujan (Nag. 22: 4-5). maharani jember
Tidak ada komentar:
Posting Komentar